DONGENG ASAL USUL BANCAKAN



Zaman dulu ketika Tanah Jawa penuh hutanbelantara, hiduplah seorang perjaka tampan. Karena bermukim di Desa Tarub, lelaki muda itu diberi nama Jaka Tarub. Pemuda tampan bertubuh tegap dan ramping itu gemar berburu di hutan dan bertanam padi dan palawija. Ia sangat rajin berkerja di sawah atau ladang membantu orang tuanya yang sudah lanjut usia.Suatu malam Jaka Tarub kemalaman di hutan. Ia memutuskan tidur di atas pohon. Bulan purnama.

 Rembulan memancarkan cahayanya yang indah di langit yang cerah. Jaka Tarub tak bisa tidur. Keindahan langit malam itu sayang sekali kalau harus dilewati. Sejenak kemudian ia turun dari pohon dan ingin menjelajah hutan di tengah malam. Setelah berjalan beberapa lama, Jaka Tarub tiba di tepi telaga. Dari telaga yang airnya jernih itu, terdengar suara gadis-gadis yang sedang bercanda.

“Mengherankan! Malam-malam begini ada suara￾suara perempuan sedang mandi sambil bercanda di hutan!” kata Jaka Tarub sendirian. Jaka Tarub merasa penasaran. Berjingkat-jingkat ia mendekati telaga. Ia ambil satu selendang untuk disembunyikan di balik punggungnya


Setelah beberapa saat tujuh bidadari itu selesai mandi. Mereka mau terbang kembali ke surga. Akan tetapi, betapa terkejutnya Nawang Wulan ketika tahu setelah hilang dari tempatnya. Enam bidadari lainnya segera terbang ke langit. Nawang Wulan tinggal sendirian di tepi telaga itu. Ia merasa sangat ketakutan dan menangis sejadi-jadinya. Di tengah kekalutan hatinya, Nawang Wulan bersumpah, kalau ada lelaki yang menolongnya, akan ia dijadikan
suami.


 Jaka Tarub mendengarkan sumpah Nawang Wulan dari balik semak belukar. Tak lama berselang, ia segera meloncat keluar   “Putri Cantik, akulah yang datang menolongmu,”
kata Jaka Tarub.“Siapa kamu? Jangan dekati aku!” jawab Nawang
Wulan ketakutan.“Aku Jaka Tarub,  seorangpemburu. Aku kemalaman di hutan ini. Jangan takut, Putri! Aku tidak akan berbuat jahat kepadamu.”


“Kau mau menolongku?”“Dengan senang hati, Putri Ayu! Kalau kau mau, kau akan kuajak pulang ke rumahku di Desa Tarub. Kau bisa hidup bersamaku.”
“Tapi, aku harus yakin kalau kau tak akan berbuat jahat padaku.”
“Aku bersumpah tak akan menyakitimu.”
“Kau tak akan berbohong?"
“Demi Dewata Agung, aku bersumpah tak akan berbohong padamu.” “Baiklah. Aku pasrah. Aku akan mengikutimu.”Jaka Tarub segera membawa Nawang Wulan ke rumahnya di Desa Tarub. Orang tua Jaka Tarub menyambut kepulangan anaknya dengan suka cita karena pagi itu anaknya membawa gadis jelita. Mereka terkesima melihat gadis yang cantik bertubuh langsing tinggi semampai dengan rambut bergelombang terurai panjang. Jaka Tarub membuktikan kesetiaannya kepada Nawang Wulan. Pemburu muda itu begitu setianyamenjaga dan menyayangi Nawang Wulan. Nawang Wulan juga merasakan betapa besar kasih sayang Jaka Tarub kepada dirinya. Tak lama kemudian mereka meresmikan pernikahan. Pernikahan itu diselenggarakan secara meriah. Warga Desa Tarub berdatangan ke tempat pernikahan untukmemberi doa kepada mempelai berdua.


 Tak lebih dari setahun setelah menikah, Jaka Tarub dikaruniai seorang anak perempuan yang mungil dan cantik. Hidungnya kelihatan mancung. Matanya indah. Kulitnya bersih dan lembut. Anak perempuan itu diberi nama Nawangsih. Jaka Tarub sangat bangga dikaruniai anak secantik itu. Kehadiran Nawangsih melengkapi kebahagiaan Jaka Tarub. Ia merasa menjadi lelaki paling bahagia di dunia, mempunyai istri bidadari dan seorang anak yang cantik pula. Bertambah rajinlah Jaka Tartub berburu di hutan dan bertanam padi di sawah. Pada masa itu hasilpanen padi yang melimpah disimpan di lumbung. Kelak kalau datang musim kemarau panjang, mereka bisa menyambung hidup dengan makan persediaan beras di lumbung.Tak lama berselang Tanah Jawa benar-benar dilanda kemarau panjang.


Musim paceklik tiba. Banyaksumber air yang kering. Orang-orang kesulitan mendapatkan makanan dan air. Beruntung keluarga Jaka Tarub masih punya persediaan padi di lumbung. Setiap hari Jaka Tarub melihat persediaan padi di lumbungnya. Namun, ada yang aneh pada lumbung padi itu. Mengapa? Tumpukan padi di lumbung itu kelihatan utuh. Diamati ulangnya tumpukan padi di lumbung itu. Jaka Tarub semakin yakin kalau tumpukan padinya tampak tak berkurang. Suatu pagi Nawang Wulan ingin mencuci baju di telaga. Telaga itu letaknya agak jauh dari rumah karena kemarau panjang saat itu telah membuat sungai kering kerontang.


Ia meninggalkan dandang di atas tungku. Sebelum pergi Nawang Wulan berpesan kepada Jaka Tarub, “Kangmas, aku mau pergi ke telaga. Kau jaga Nawangsih baik-baik, ya! Jangan sampai dia menangis.”“Ya, Diajeng. Biar kujaga anak kesayangan kita ini.”“Oh ya … aku juga tinggalkan dandang untuk menanak nasi. Sebentar lagi nasinya sudah matang. Pesanku hanya satu. Jangan sampai Kangmas mencoba membuka dandang itu!” kata Nawang Wulan tegas.“Mengapa begitu, Diajeng?”

“Tak perlu aku jelaskan sekarang, Kangmas.”“Baik. Akan kuingat pesanmu itu, Diajeng.”Nawang Wulan segera pergi ke telaga membawabaju-baju kotor untuk dicuci. Sambil menunggui Nawangsih, Jaka Tarub menyanyikan tembang-tembang Jawa. Tembang yang sangat merdu itu dinyanyikan untuk menidurkan Nawangsih. Tak lama berselang, Nawangsih tertidur. Jaka Tarub segera menaruh anaknya di ayunan. Ia berjalan ke dapur untuk meniup api di tungku yang hampir padam.

Ketika berjalan ke dapur, rasa penasaran Jaka Tarub semakin membuncah. Ia ingat pesan istrinya untuk tidak membuka dandang yang dipanasi di atas tungku itu. Namun, larangan itu justru menimbulkan keinginan kuat untuk mencari tahu apa sebenarnya yang ada di dalamnya? Kemudian, ia nekat membuka tutup dandang tersebut. Betapa terkejutnyaJaka Tarub ketika ia dapati dandang itu hanya berisi setangkai padi. “Pantas saja padi di lumbung itu tak pernah susut! Ternyata Diajeng Nawang Wulan hanya memasak setangkai padi setiap hari. Baiklah, akan aku kembalikan buliran padi ini ke dalam dandang lagi,” gumam Jaka Tarub sendirian. Beberapa saat kemudian Nawang Wulan pulang. Baju-baju yang ia cuci segera dikeringkan di samping rumah.


 Nawang Wulan berjalan ke dapur. Ia mau melihatapakah nasinya telah masak. Namun, ketika sampai di dapur, wanita bidadari ini terperanjat karena nasinya belum juga masak. Ia buka dandang itu, dan betapa kagetnya ketika ia lihat setangkai padi itu masih utuh tergeletak di dasar dandang.Kangmas, kamu pasti sudah melanggar laranganku!” kata Nawang Wulan.“Larangan apa, Diajeng?” jawab Jaka Tarub terperanjat.“Tadi pagi Kangmas aku minta untuk tidak membuka dandang ini! Pasti Kangmas telah melanggar laranganku itu!”“Emmm ... maaf, Diajeng. Tadi aku merasa sangatpenasaran. Dandang itu aku buka. Hanya setangkai padi yang kutemukan di dalam dandang itu.”


“Begitulah caranya aku memasak nasi, Kangmas. Sekarang padi itu tidak bisa masak menjadi nasi dan aku harus masak nasi seperti manusia biasa.”“Aduh! Maafkan aku! Diajeng harus hidup susah. Semua itu karena salahku.”“Aku sangat kecewa, Kangmas. Tapi tak apalah. Itu kesalahan kecil bagiku. Sekarang Kangmas Jaka Tarub harus menumbuk padi dan menyiapkan beras untuk dimasak seperti orang-orang di desa ini.”“Tidak apalah, Diajeng. Biar aku yang menyiapkan beras itu setiap hari.”Sejak saat itu Jaka Tarub harus menumbuk padi dengan alu dan lesung hingga jadi beras. Nawang Wulanharus menanak nasi menggunakan belanga (kendil) seperti orang-orang Jawa pada umumnya. Jaka Tarubsangat menyesal atas kelancangannya, tetapi penyesalan itu tidak berguna. Setiap hari ia harusmenumbuk padi. Nawang Wulan setia menemani suaminya saat dia sedang menumbukpadi.


Lama- lama tumpukan padi di lumbung menipis. Suatu pagi Nawang Wulan menemukan sesuatu yang mengejutkan di bawah tumpukan padi itu.“Selendang merah jambu? Ya. Ini selendang yang aku cari selama ini. Tak kusangka, Kangmas Jaka Tarub telah mencuri dan menyembunyikanselendangku. Dengan selendang ini, aku bisa terbang kembali ke surga. Ya! Aku harus kembali ke surga bulan purnama yang akan datang.”Nawang Wulan tak ragu lagi untuk meninggalkan bumi. Ketika purnama tiba, ia segera berpamitan Jaka Tarub untuk terbang ke langit, dan kembali berkumpul saudara-saudaranya para bidadari di surga. “Diajeng, jangan kau tinggalkan aku!” kata Jaka Tarub merengek-rengek.“Tidak mungkin, Kangmas. Aku ini bidadari. Tempatku di surga, tidak di bumi seperti ini. Waktu kita untuk hidup bersama telah habis. Kita harus berpisah.”“Tapi, apakah Diajeng tega meninggalkan Nawangsih?”


“Sebenarnya berat juga hatiku, tetapi aku tak bisa mengingkari suratan takdir. Selamat tinggal, Kangmas!”“Nawang Wulaaaaaan! Diajeng! Diajeng Nawang Wulan!” teriak Jaka Tarub penuh kesedihan. Ia panggil berulang-ulang istri yang sangat dicintainya itu, tetapi tak ada jawaban. Suasana hening seiring berhembusnya angin malam. Nawang Wulan terus terbang membubung tinggi ke langit.Malam bulan purnama itu menjadi malam yang menyedihkan bagi Jaka Tarub. Itulah malam terakhir bagi Jaka Tarub bertemu Nawang Wulan.


 Tidak hanyasedih ditinggal istrinya, kini ia juga harus mencari makan dan memasak sendiri untuk dirinya dan mengurus anaknya yang masih kecil. Dalam kekalutan hatinya, Jaka Tarub berdiri sambil menggendong anaknya di tengah halaman. Ia menengadahkan tangan memanjatkan doa￾doa menyuarakan kesedihan hatinya.“Diajeng Nawang Wulan, kau sungguh tega! Kau tak punya rasa kasihan pada anak kita! Nawang Wulan, dengarkan jeritan hatiku!” teriak Jaka Tarub dibarengi tangis yang memilukan. Tiba-tiba saja datanglah suara dari langit.

“Kangmas, kau tak usah bersedih!”
“Diajeng Nawang Wulan, kembalilah lagi kau ke bumi. Aku tak mungkin hidup tanpa kamu!”“Tidak mungkin, Kangmas! Aku harus hidup di duniaku yang sesungguhnya.”“Bagaimana dengan anak kita yang masih kecil ini? Bagaimana aku bisa mengasuhnya?”“Kalau Nawangsih menangis, bawalah ia keluar rumah. Saat bulan purnama aku pasti datang ke bumi. Aku akan menghiburnya dari langit.”“Bagaimana kalau dia sakit? Aku tak bisa menjaganya.”“Kangmas adakan bancakan pada hari kelahiran Nawangsih! Buatkan nasi ditambah sayuran dan lauk￾pauk sederhana. Kau bagikan bancakan itu kepada anak-anak di sekitar rumah. Mintakan doa kepada anak-anak itu agar Nawangsih sehat, selamat selama￾lamanya. Selamat tinggal, Kangmas! Aku tak bisa lama Lagi menemui dirimu!”"Diajeng …!” teriak Jaka Tarub memilukan.


Jaka Tarub memandangi bayang-bayang Nawang Wulan di langit. Lama-kelamaan bayangan itu semakin kabur dan menghilang. Jaka Tarub meneteskan air mata. Kesedihan hatinya tak ada yang mengobati. Dia lihat Nawangsih yang mungil. Bertambahlah kesedihan hatinya. Anaknya itu telah kehilangan kasih sayang ibunya.Nawang Wulan telah pulang ke surga. Jaka Tarubdan Nawangsih harus menjalani hidup di dunia sampaiakhir masa hayatnya. Untuk memenuhi permintaan Nawang Wulan tersebut, setiap hari kelahiran (weton) Nawangsih selalu diadakan bancakan. Bancakan itu berupa nasi gunungan yang diberi hiasan sayuran hijau dan lauk-pauk sederhana.Bancakan itu sendiri sebenarnya melambangkan doadan pengharapan Jaka Tarub untuk keselamatan dan kebahagiaan putri semata wayangnya. Nasi bancakan dibuat kerucut seperti gunung. Gunung itu melambangkan harapan dan cita-cita yang tinggi. Jaka Tarub berharap Nawangsih menjadi anak.

yang berguna bagi keluarga, tetangga, dan wargaDesa Tarub dan sekitarnya. Puncak gunungan nasi diberi hiasan lombok merah menyala sehingga sekilas tampak seperti puncak gunung berapi. Ini menandakan peng￾harapan agar anak yang diberi bancakan itu tetap memiliki semangat hidup yang terus menyala seperti gunung api yang tidak pernah padam.Di bagian bawah sayuran hijau bercampur parutan kelapa berbumbu ditata berkeliling sehingga terlihat seperti hutan di kaki gunung.


Hiasan ini memang melambangkan kesuburan hutan. Hiasan sayur hijau ini juga melambangkan doa. Hijau adalah lambang kesuburan, kemakmuran, dan ketenteraman. Jaka Tarub berharap anaknya itu bisa tumbuh sehat dan hidup dengan ketenteraman dan kedamaian selama-lamanya. Agar seorang anak tumbuh sehat, anak tersebut seharusnya aman dari beragam penyakit.Jaka Tarub berharap agar Nawangsih dikaruniai kesehatan sepanjang hidupnya.



Untuk membuat hidup Nawangsih tenteram meskipun tidak memiliki ibu lagi, ia membutuhkan banyak teman bermain. Jaka Tarub berharap agar teman￾temannya mau bermain bersama dia. Jika anaknya kelak sudah tumbuh besar, Jaka Tarub berharap anaknya bisa bermain bersama teman-temannya.Warna putih dan kuning dari telur rebus yang dipecah menjadi potongan-potongan kecil dan irisan￾irisan mentimun yang menghiasi sayuran hijau melambangkan pengharapan Jaka Tarub kepada Nawangsih agar kelak ia memiliki masa depan yang
cerah.


Warna putih melambangkan kecerahan dan keceriaan. Dengan menghadirkan warna putih dalam bancakan itu, diharapkan anak yang diberi bancakan itu selalu memiliki hati yang ceria dan mendapatkan hidup yang cerah kelak di kemudian hari. Warna kuning bagian dari telur rebus memperkuat doa dan pengharapan itu. Ayam rebus yang diiris-iris menjadi potongan-potongan kecil juga melambangkan doa. Telur merupakan hasil dari peternakan unggas yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan.Lauk berupa telur ini juga melambangkan harapan orang tua yang mengadakan bancakan agar anaknya bisa menghasilkan (menelurkan) sesuatu karya yang berguna kelak kemudian hari. Dengan menelurkan karya, seseorang akan melewati hidupnya penuh makna.Setelah doa dibacakan, Jaka Tarub memercikkan air menggunakan daun dadap serep ke kepala Nawangsih dan kepala anak-anak yang diberi selamatan bancakan itu. Ini adalah suatu cara untuk menyebarkan doa-doa agar anak-anak diberi keselamatan dan perlindungan dari beragam penyakit. Hingga Nawangsih menjelang dewasa, bancakan terus diadakan setiap tiga puluh lima hari. Orang-orang di sekitar Desa Tarub ikut melakukan tradisi bancakan ini.


Daftar Pustaka

Sudadi.2018.Bancakan.Jakarta:Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan






Komentar

Posting Komentar